Selasa, 27 Juli 2021

Aksi Nyata Penerapan Budaya Positif PGP-Angk2-Kota Surabaya-Johana T M D Lestari-1.4-Aksi Nyata

Aksi Nyata Budaya Positif

 

 Pada awal pembelajaran lalu tepatnya bulan Juli 2020 adalah awal pertama tahun pelajaran 2020/2021 yang diawali dengan mode daring (RTL: Remote Teaching Learning). Sebelum pembelajaran Fisika di kelas XI IPA di SMA Elyon, guru dan murid membuat kesepakatan dan komitmen yang sesuai dengan standart perilaku siswa pada tahun pelajaran tersebut. Langkah pertama yang dilakukan adalah guru mengajak siswa menciptakan suasana belajar yang ideal menurut standart perilaku siswa yang sudah ditetapkan sekolah.

Lalu guru mulai mendiskusikan isi dari standart perilaku siswa bersama, dan membuat kesepakatan tambahan bersama siswa diluar standart perilaku siswa tersebut bila masih ada kriteria yang ideal menurut kelas yang ingin ditambahkan, selanjutnya bersama siswa merumuskan komitmen apa saja yang diperlukan agar kriteria ideal tersebut dapat direalisasikan. Dalam menambahkan kriteria ini, guru dan siswa menyepakati bersama. Dari kesepakatan ini ternyata tidak ada tambahan kriteria ideal menurut siswa, hanya siswa minta ijin diperbolehkan mematikan kamera dengan seijin guru apabila terdapat gangguan koneksi internet maupun hal lain dan wajib menyalakan kamera saat absen atau berdiskusi di kelas online (daring).

Lalu guru mulai menceritakan harapannya terhadap siswa agar suasana kelas yang ideal dapat terwujud. Semua standart perilaku siswa dan kesepakatan tambahan dituliskan pada file. File ini di dokumentasikan pada powerpoint yang didistribusikan ke siswa lewat google classroom sekolah. Di dalam kesepakatan itu terdapat budaya positif antara lain memberi salam/ menyapa, membuka dan menutup hari dengan doa, mencoba selalu berfikir positif, peduli pada lingkungan, juga toleransi dan mencoba mengajak siswa berpikir mengenai kemungkinan dampak dari melakukan budaya positif.yang diterapkan.

  

Gambar zoom diskusi saat menentukan kesepakatan kelas.

 

Gambar kesepakatan (komitmen dan konsekwensi) di awal pembelajaran

 

Personil yang dilibatkan dalam perancangan dan pembentukan budaya positif di sekolah adalah pimpinan sekolah dan guru-guru (teman sejawat) lewat penentuan kebiasaan/ standart perilaku siswa dan tata tertib siswa, selanjutnya adalah siswa saat membuat kontrak pembelajaran (kesepakatan komitmen dan konsekwensi saat melanggar komitmen tersebut).

 Di akhir pembelajaran 2020/2021 Guru sempat menerapkan rancangan aksi nyata mengenai penerapan Budaya Positif di kelas pada kompetensi yang terakhir yaitu menerapkan alat optic dalam kehidupan sehari-hari.


          Berikut penerapan aksi nyata budaya positif dan penerapan pendidikan menurut KHD yang mengaitkan dengan ke-khasan budaya local di kota Surabaya.


Setelah pengambilan nilai terakhir pada kompetensi menerapkan alat optic dalam kehidupan sehari-hari maka guru memberikan survey pada siswa untuk mengevaluasi kegiatan belajar selama kompetensi yang terakhir ini.

 Survey yang dibuat diharapkan dapat menunjukkan hubungan antara harapan dan kenyataan yang terjadi pada indicator relevansi, berpikir reflektif, interaktif, dukungan guru, dukungan teman dan interpretasi siswa selama pembelajaran yang terakhir yaitu kompetensi menerapkan alat optic dalam kehidupan sehari-hari. Hasil dari survey menunjukkan terdapat irisan atau bersinggungan pada semua kriteria antara kondisi nyata dengan harapan siswa. Ini berarti harapan dan kenyataan pada indicator relevansi, berpikir reflektif, interaktif, dukungan guru, dukungan teman dan interpretasi siswa selama pembelajaran yang terakhir yaitu kompetensi menerapkan alat optic dalam kehidupan sehari-hari masih dalam batas yang sama, hanya saja ada perbedaan jarak atau gap yang cukup besar pada tutor support atau dukungan guru dan pada peer support atau dukungan teman sebaya di dalam kelas.

 

Hasil survey yang diberikan pada siswa (di bulan Juni 2021).

 Hasil survey menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran setahun yang lalu terdapat beberapa kesalah pahaman antara guru dan murid karena komunikasi antara Guru dan murid yang kurang lancer. Ini terjadi karena selama pandemic ini komunikasi hanya dapat dilakukan secara virtual yaitu lewat zoom atau WA chat saja. Hal ini membuat tidak semua murid merasa menikmati atau nyaman dan aman selama belajar Fisika.

 Maka di awal tahun pelajaran 2021/2022 ini, guru mulai merancang kesepakatan kelas yang diharapkan dapat menjembatani kesalah pahaman ini dan harapannya akan semakin banyak siswa yang menikmati belajar Fisika.

Kesepakatan Kelas ini dibuat dengan cara, terlebih dahulu guru menayangkan video mengenai Belonging classroom pada padlet dan meminta siswa memberikan komentar positif mengenai video tersebut. Selanjutnya siswa diminta menuliskan kriteria teman ideal yang diharapkan, lalu kriteria guru ideal yang diharapkan, lalu kriteria kelas ideal yang diharapkan. Lalu bertanya kepada siswa-siswi kelas 12, “Apakah Belonging classroom adalah kelas ideal yang ingin diwujudkan selama belajar Fisika?”, dan sebagian besar siswa setuju menjadikan Belonging classroom sebagai contoh kelas ideal yang ingin diwujudkan bersama.


Kemudian guru mengajak siswa berdiskusi bagian mana yang dipilih oleh kelas untuk disepakati menjadi Kesepakatan kelas agar suasana belajar dapat lebih kondusif dan semua siswa dapat merasakan Belonging Classroom di saat belajar Fisika.

Padlet kesepakatan kelas 12 IPA

Dari semua komentar positif dan masukan mengenai kelas yang ideal beserta masukan dari beberapa postingan guru mengenai kriteria guru ideal dan kriteria teman sekelas yang ideal maka guru dan siswa menyimpulkan kriteria kelas ideal yang diinginkan antara lain :

  1. Setiap anggota kelas baik Guru dan Murid wajib saling membantu untuk tercapainya visi dan misi sekolah selama di kelas XII
  2. Saling mendengarkan dan menghargai pendapat antara guru dan siswa selama di kelas XII   
  3. Mematuhi semua aturan sekolah sesuai ketentuan yang telah dijelaskan pada masa orientasi pada tanggal 13-14 Juli 2021
  4. Semua informasi dimasukkan ke google classroom/GC (Semua tugas di moodle juga diinfokan di GC agar ada notifikasinya)

 

                   Kesepakatan kelas XII

    Semua kesepakatan kelas tersebut di tulis di padlet dan setiap siswa yang setuju, menuliskan persetujuannya pada bagian comment. Semula terdapat lima rencana kesepakatan kelas, tetapi dalam proses pengambilan suara hanya empat rencana kesepakatan kelas saja yang disetujui oleh seluruh siswa kelas XII. Sehingga bagian yang kelima tidak menjadi bagian dari kesepakatan. Kelas XII terdiri dari 18 siswa, dari 18 siswa tesebut 17 siswa dapat melakukan persetujuannya sedangkan satu siswa mengalami masalah internet tetapi siswa yang mengalami kendala koneksi internet ini sudah menginfokan lewat zoom bahwa yang dia setuju juga.

Kesepakatan ini tercatat dan dapat dilihat melalui LMS yang digunakan selama belajar Fisika yaitu lewat Moodle dan Google Classroom.


Pada Moodle terdapat tautan Kesepakatan kelas dan KD (Kompetensi Dasar) yang akan di pelajari selama setahun kedepan, Selanjutnya juga ada Presensi mengenai Kesepakatan kelas yang dihadiri seluruh anggota kelas.


 

Pada Google Classroom juga di postingkan Kesepakatan kelas ini di bagian pertama pembelajaran Fisika.


Kesepakatan ini akan dievaluasi setiap satu kompetensi tuntas dipelajari. Bila ada yang perlu diubah (ditambah/ dikurangi) maka akan didiskusikan bersama guru dan murid tanpa mengurangi jam pembelajaran Fisika.

Didalam Padlet (https://padlet.com/diahlestaridm/3dwfvuewhtynjpnc) juga terdapat penjelasan detail mengenai masing-masing kesepakatan.

          Harapan kedepan di kelas XII ini untuk semua siswa bisa lebih menikmati belajar Fisika dan dapat memperoleh pembelajaran yang bermakna sekaligus membangun budaya positif dalam dirinya. Dan harapan untuk guru dapat memperbaiki diri dan dapat meningkatkan kemampuan dalam menjadi fasilitator dan menjalankan perannya sebagai guru penggerak.