Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) adalah pembelajaran dimana guru dapat menggabungkan keseimbangan pada tiap individu peserta didik dan mengembangkan kompetensi personal tiap peserta didik yang dibutuhkan mereka untuk dapat menjadi sukses sehingga dapat menempatkan diri secara efektif dalam konteks lingkungan dan dunia.
Semua pengetahuan yang diberikan pada peserta didik selalu bersifat konstruktif, dan proses pembelajaran pada peserta didik selalu bersifat relasional, disini jelas bahwa emosi dapat menarik perhatian peserta didik, dan perhatian dapat mendorong terjadinya proses belajar.
Anak akan belajar saat hati mereka terbuka, terhubung dengan lingkungan sekitar serta adanya tujuan. Artinya peserta didik bapat belajar dengan baik apabila mereka memiliki kesiapan belajar dan minat terhadap apa yang dipelajarinya juga dalam kondisi sosial emosional yang mendukung untuk belajar.
Setiap anak pasti memiliki kesiapan belajar dan minat yang berbeda, karena setiap anak diciptakan Tuhan secara unik/ khas (tidak ada yang persis sama satu dengan lainnya), Karena hal inilah maka sebelum memulai pembelajaran hendaknya dipetakan dulu kesiapan belajar siswa/ minat belajar siswa/ profil belajar siswa lewat membuat perencanaan pembelajaran yang berdifferensiasi agar proses pembelajaran yang bermakna dapat berhasil.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian kegiatan pembelajaran yang dirancang guru berdasarkan kebutuhan siswa yang berakar dari penilaian terhadap konten/ proses/ produk yang berpusat pada murid dalam pembelajaran secara individu atau kelompok dalam kelas secara dinamis. Pembelajaran berdiferensiasi dirancang berdasarkan kebutuhan profil belajar/ minat/ kesiapan siswa dan perencanaanya berakar dari penilaian konten/ penilaian proses/ penilaian produk.
Pembelajaran berdiferensiasi dapat menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman untuk siswa baik secara individu/ kelompok, karena pada pembelajaran ini anak dapat merasa diterima dan dihargai dan anak dapat tumbuh berkembang semaksimal mungkin sesuai kemampuannya. Disini semua pertumbuhan/ perkembangan anak dari kondisi sebelumnya layak dicatat dan dihargai.
Pembelajaran berdiferensiasi dapat berdasarkan profil belajar anak/ berdasarkan minat belajar anak atau berdasarkan kesiapan belajar anak. Penjelasan mengenai hal ini sebagai berikut :
1. Pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan profil belajar anak disini maksudnya adalah pembelajaran dirancang sesuai modalitas belajar/ gaya belajar mayoritas anak dalam kelas, sehingga akan semakin banyak anak yang dapat pengalaman belajar bermakna dan dalam dari suatu kompetensi. Pada pembelajaran ini biasanya diawali dari memberi test gaya belajar pada anak terlebih dahulu atau bekerjasama dengan BK atau konselor untuk meminta data terbaru mengenai modalitas belajar dan multiple intelegensi anak.
2. Pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan minat anak membebaskan anak untuk mempelajari sesuatu bedasarkan minat anak itu sendiri kemudian dipresentasikan didepan teman-temannya. Harapannya saat anak punya minat yang besar pada suatu hal akan membantu si anak untuk eksplor lebih dalam pada topik/ materi/ kompetensi tersebut sehingga hasil presentasinya bisa optimal.
3. Pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan kesiapan siswa membantu guru merancang proses belajar berdasarkan kesiapan siswa, disini dukungan dari guru untuk menjawab tantangan anak disediakan dengan metode schafolding. Biasanya diawali dengan melakukan pretest sebelum pembelajaran atau mengacu pada nilai pelajaran sebelumnya yang berkaitan dengan kompetensi yang akan dipelajari.
Setelah merancang pembelajaran berdiferensiasi maka dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi agar mencapai hasil pembelajaran bermakna, maka pembelajaran perlu dikemas dengan menerapkan kompetensi Sosial Emasional dari PSE. Penerapan PSE sangat diperlukan karena dari pembelajaran sosial emosional akan terbentuk relasi antar guru dan murid dan murid dengan sekelilingnya yang akan menarik perhatian mereka untuk mempelajarai sesuatu dan membentuk pembelajaran yang bermakna pada setiap siswa.
Terdapat Lima kompetensi Sosial Emosional antara lain: Kesadaran Diri (Pengenalan Emosi), Pengelolaan Diri (Mengelola Emosi dan Fokus), Kesadaran Sosial (Keterampilan Berempati), Keterampilan Berhubungan Sosial (Daya Lenting (Resiliensi)/Ketangguhan (Daya juang)), dan Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab.
Dalam menerapkan PSE, siswa perlu difasilitasi guru sebagai Coach untuk menerapkannya. Pada penerapan kompetensi kesadaran diri dan pengelolaan diri diperlukan Kesadaran penuh (mindfulness, yang bisa diterapkan dengan metode STOP: Stop, Take a deep breath, Observe, Proceed). Sedangkan untuk menerapkan kompetensi Kesadaran sosial diperlukan empati dari 3 pertanyaan dasar (apa yang : dirasakan orang lain, dilakukan orang lain, saya rasakan saat mengalami hal yang sama) Untuk menerapkan Ketrampilan berhubungan sosial diperlukan 4S dan 3I (Identifikasi Strategy, Solution-seeking behaviour, supportive people, sagacity dan I have, I am, I can) dan untuk kompetensi pengambilan keputusan yang bertanggungjawab diperlukan POOCh (Problem, Option, Outcomes, Choice, Reflection).
Proses seorang guru yang bertindak sebagai coach yang sedang membantu peserta didiknya yang disebut dengan coachee dinamakan dengan proses coaching. Peran Coach adalah memberikan sarangkaian pertanyaan kepada coachee yang bertujuan untuk mengarahkan coachee agar dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dengan mengoptimalkan semua potensi yang dimilikinya. Tahapan dalam melakukan coaching saat seorang guru ingin memfasilitasi peserta didik yang mengalami masalah atau saat seorang guru ingin mengembangkan PSE dalam diri siswa dikenal dengan metode/ tahapan TIRTA (Tujuan Utama, Identifikasi, Rencana, Tanggungjawab dan Refleksi).
Visi pendidikan di Indonesia adalah mewujudkan profil pelajar Pancasila, yaitu profil pelajar yang berkembang secara holistic sehingga mampu menjawab tantangan globalisasi dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila sehingga dapat mencapai kebahagian setinggi-tingginya sebagai individu dan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Untuk mewujudkan Visi tersebut diperlukan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional yang dalam pelaksaannya guru sebagai fasilitator peserta didik dapat menjalankan perannya sebagai coach, konselor maupun mentor.

Mohon masukan dan komentarnya disini.
BalasHapus