Jumat, 08 Oktober 2021

Demontrasi Kontekstual - Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran

 

Memasuki modul 3.1 pada program calon guru penggerak mengenai topik pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran semakin menambah wawasan saya dan memperkuat kompetensi saya sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah. Langkah-langkah sistematis dan praktis dari modul ini sangat mudah diterapkan dan dapat menjadi panduan saat mengalami keraguan dalam mengambil keputusan. Praktik baik ini akan saya transfer/ bagikan ke rekan sejawat saya melalui sharing pada komunitas praktisi yang akan kembali lagi diaktifkan di sekolah saya di masa pandemi ini.Saya juga mulai memiliki komitmen untuk menerapkan 9 langkah pengujian keputusan saat saya mengalami dilema etika di sekolah dimana saya bekerja.

Langkah awal yang saya lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran adalah menguji suatu kondisi ini termasuk kasus dilemma etika atau bujukan moral, dengan menguji legalitasnya, dan memastikan apakah kondisi tersebut melanggar hukum atau peraturan. Bila melanggar hokum maka kasusnya benar lawan salah yang berarti ini kasus bujukan moral, artinya tidak perlu di buat keputusan karena memang salah. Sedangkan bila uji legalitas menyatakan benar lawan benar artinya ini kasus dilemma etika yang perlu diambil keputusan yang tepat dengan menerapkan 9 langkah pengujian keputusan.

Bila situasi yang dihadapi adalah Dilema etika maka kita perlu menguji paradikma benar lawan benar-nya. Ada empat Paradigma yang dapat mempertajam situasi Dilema Etika yang dihadapi. Empat Paradigma itu antara lain: Individu lawan masyarakat (individual vs community), Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), dan Jangka pendek lawan jangka panjang (shortterm vs long term).

Untuk menyelesaikan kasus Dilema Etika ada 3 prinsip resolusi berfikir yang menjadi dasar, antara lain: Berpikir berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Dan dalam mengambil dan menguji keputusan terdapat Sembilan (9) langkah yang perlu diambil, yaitu:

1.  Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

2.  Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

3.  Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

4.  Pengujian benar atau salah, yang meliputi uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan Koran, uji panutan/idola.

5.  Pengujian paradigma benar lawan benar (4 paradigma)

6.  Melakukan prinsip resolusi (3prinsip resolusi)

7.  Investigasi opsi trilema (sebuah alternatif penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul ditengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah, opsi diluar dari 2 opsi pilihan yang mungkin ada)

8.  Buat keputusan

9.  Lihat lagi keputusan dan refleksikan

 

Seringkali dalam satu kasus terdapat lebih dari satu paradigma dan lebih dari satu prinsip resolusi. Opsi trilemma juga tidak selalu ditemukan dalam suatu kasus Dilema Etika.

Saya mulai menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini hari Kamis tanggal 7 Oktober 2021 setiap saya mengalami kasus dilema etika yang memerlukan pengambilan keputusan yang tepat dengan mengikuti sembilan langkah pengujian keputusan diatas. Dalam mengambil suatu keputusan disaat mengalami kasus dilema etika sering kali diperlukan pendapat dari orang lain yang bisa dipercaya atau pendamping yang membimbing dan mengevaluasi dalam proses membuat suatu keputusan dalam kasus dilema etika. Dalam hal ini saya memiliki rekan sejawat yang satu rumpun maupun wakil kepala sekolah untuk saya ajak teman diskusi dan evaluasi refleksi mengenai keputusan yang diambil dalam peran sebagai pemimpin pembelajaran. Setelah saya mempelajari mengenai pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam pembelajaran, saya akan membagikan pengetahuan baru ini pada komunitas praktisi di sekolah saya sehingga semua rekan sejawat saya paham mengenai Sembilan langkah pengujian keputusan

Saya memiliki komitmen untuk membagikan pengalaman saya dalam menerapkan mengambil keputusan dalam kasus dilema etika pada waktu pertemuan rutin komunitas praktisi disekolah. Setelah berbagi penerapan tersebut saya akan meminta masukan atau umpan balik dari rekan sejawat mengenai kasus saya dan keputusan yang saya ambil saat peristiwa dilemma etika terjadi. Rekan sejawat dan pimpinan saya akan akan menjadi teman diskusi saya yang dapat membantu saya untuk menentukan apakah langkah-langkah yang sudah saya ambil adalah keputusan yang paling tepat dan efektif dalam menghadapi kasus dilemma etika. (Johana T M D Lestari-CGP Angkatan 2 Kota Surabaya 2021)

1 komentar:

  1. Bila ada komentar dan saran silahkan di post kan disini. Terima kasih.

    BalasHapus